Monday, September 27, 2010
architecture : ITB
batas

Monday, January 4, 2010
jangan doraemon yang mengajari kita
Saturday, December 12, 2009
arsitektur : Toko Cokelat.bdg

Pendahuluan
Tidak dipungkiri lagi bahwa dunia desain seperti Arsitektur, desain Interior, dan desain produk terus berkembang mengikuti gaya hidupnya yang khas. Dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi fenomena yang menarik di dunia Arsitektur yang berkaitan dengan gaya hidup ini Setelah krisis moneter tahun 1998, kemunculan berbagai fasilitas yang berkaitan dengan pemakaian waktu luang untuk golongan menengah ke atas. Berbagai fasilitas ini dapat berupa kafe, resto, spa, lounge, fitness centre, dan hotel butik. (Achmad Tardiyana, 2007).
Fenomena ini banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dengan kemudahan sistem informasi dan komunikasi serta infrastruktur yang memadai, kota-kota besar tersebut dengan mudahnya tersentuh arus globalisasi yang menyebabkan sebuah konsekuensi yaitu menyebarnya budaya konsumerisme. Budaya ini semakin berkembang dengan bentuknya sekarang dimana seorang konsumer tidak lagi diarahkan oleh pencipta tren tetapi konsumer lah yang menjadi pencipta tren itu sendiri, seperti yang terjadi di dunia desain busana terkini. Hal ini menunjukkan kondisi dimana masyarakat lah yang menentukan cara mereka mengkonsumsi sesuatu.
Budaya ini yang mengakibatkan pembangunan fasilitas-fasilitas pemenuh kebutuhan gaya hidup masyarakat urban tersebut. Setiap fasilitas berlomba memunculkan bangunan yang tidak sekedar sebuah wadah fisik namun memberi nilai lebih berupa suasana dan ruang yang unik. Sehingga seringkali kegiatan sehari-hari diangkat pada tatanan estetik tertentu sehingga memiliki nilai dan gengsi tertentu pula (Achmad Tardiyana, 2007).
Aktifitas menyeruput secangkir kopi dapat ditempatkan pada kasta yang lebih tinggi sehingga bermunculan warung-warung kopi “executive class” seperti Starbucks, Ngopi Doeloe, Kopi Progo, Café Oh Lala, dsb.
Bandung menjadi salah satu lokasi dimana tumbuh suburnya gaya hidup beserta fasilitas pemenuhannya tersebut. Belum siapnya RTRW Kota Bandung mengakibatkan fasilitas-fasilitas tersebut tersebar acak dan kerapkali mengakibatkan bergesernya fungsi sebuah kawasan. Seperti yang terjadi di Jalan Dago, fenomena Factory Outlet telah merubah hampir seluruh fungsi kawasan yang semula residensial menjadi komersial. Fenomena serupa turut merubah wajah perumahan di Jalan Progo menjadi wajah komersial dengan munculnya café dan restoran disepanjang jalan itu.
Toko Cokelat hadir ditengah-tengah fenomena yang terjadi ini. Karya arsitektur Tan Tik Lam adalah salah satu karya arsitektur yang menjawab kebutuhan gaya hidup kontemporer selain juga menjawab konteks lingkungan Jalan Progo yang sedang bergeser dari fungsi residensial menjadi komersial secara perlahan.
Konsep Bangunan
Tidak dipungkiri bahwa perkembangan fasilitas gaya hidup ini turut memacu perkembangan arsitektur di Indonesia. Keinginan pemilik modal untuk menghadirkan sesuatu yang unik dan inovatif menjadi setali tiga uang dengan kenginginan alamiah kreativitas arsitek. Setiap fasilitas pemenuhan gaya hidup ini berlomba-lomba menciptakan sebuah bangunan unik dan menarik. Dikatakan oleh Tan Tik Lam, dalam Merancang sebuah bangunan komersial, bangunan harus memiliki point of interest dan nilai, dengan begitu diharapkan orang akan datang.
Lahirnya Konsep dari bangunan ini sendiri berawal adalah kebutuhan pemilik untuk memiliki tempat untuk berjualan. Tan Tik Lam memiliki prinsip bahwa konsep sebuah bangunan harus berasal dari pertimbangan fungsi, lokasi, dan dana. Klien dari Toko Cokelat ini cukup ketat dalam membelanjakan dananya. Oleh karena ketersediaan dana menjadi krusial karena akan menentukan konsep bangunan seperti apa yang didesain beserta keberjalanannya.
Dalam segi lokasi, bangunan ini memiliki bentuk tapak yang bisa dikatakan kurang menguntungkan. Lahannya berbentuk segitiga yang terpotong dibeberapa bagian sehingga dapat kurang maksimal pemanfaatannya. Selain itu, lokasi bangunan berada di suatu jalan atau kawasan dengan sejarah residensial sehingga butuh perhatian lebih untuk menciptakan sebuah bentukan arsitektur komersial menjadi di kawasan yang semula residensial.
Menurut Tan Tik Lam, bentuk bangunan bukan suatu konsep, baginya bentuk adalah keselarasan dengan lingkungan. Keselarasan dengan lingkungan itu diperoleh dengan mengambil pola-pola yang ada dalam kawasan.
Good design is Good Business
Pengalaman menikmati cokelat di taman dengan rindangnya dedaunan sembari bersantai bersama teman atau keluarga menjadi nilai jual yang ditawarkan oleh toko cokelat. Suasana ruangnya nyaman dan seolah-olah menyatu dengan alam.
Seluruh dinding bangunan yang menghadap taman terbuat dari kaca polos dan bening sehingga seluruh isi toko terlihat jelas dari luar dan aksen warna oranye pada dinding yang menghadap jalan menambah daya tarik orang untuk memasuki bangunan ini atau sekedar menolehkan pandangannya melihat bangunan ini.
Bentuk bangunan ini menarik dan unik. Pada awalnya sang arsitek hanya membuat bentuk atap perisai biasa namun ia kemudian mencoba bereksplorasi dengan memiringkan atap tersebut dan terciptalah bentuk atap yang seolah-olah terguling sehingga bentuknya miring. Bentuk geometris dan bentuk atap yang menarik ini adalah respon dari potensi tapak yang berada di tusuk sate pertigaan jalan sehingga bangunan tampil menjadi suatu aksen yang menarik perhatian orang yang melewati jalan tersebut.
Banyak yang mengatakan bangunan ini fotogenik sehingga sering diadakan sesi foto pernikahan dengan latar belakang bangunan ini. Pengunjung yang datang pun tidak lupa untuk menyempatkan berfoto bersama bangunan. Kegiatan yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh sang arsitek saat merancang ini pun menjadi nilai lebih dalam bangunan komersial dimana bangunan sudah memiliki poin atau nilai dimata masyarakat.
Menurut Virginia Postrel, seorang jurnalis budaya, sebuah rancangan yang berkualitas dianggap mampu memberikan sebuah nilai lebih dan dapat menjadi pemenang dari sebuah persaingan.
Rancangan Bangunan Komersial Berwajah Residensial
Menurut Tan Tik Lam walaupun Jalan Progo sudah mengalami pergeseran menuju fungsi komersial, harus tetap memiliki bentuk yang residensial. Untuk itu ia mempertahankan bentuk atap perisai seperti yang digunakan juga pada atap bangunan sekitar. Sikap arsitek yang mempertahankan pola-pola setempat membuat tampilan toko cokelat menjadi sebuah small commercial space dengan bentukan housing atau residensial.
Dalam teori Architecture in context (Brolin,1980), adalah bagaimana merancang hubungan visual yang simpatik atau selaras dengan lingkungan setempat. Menurut Brolin ada beberapa cara untuk mencapai hubungan simpatik dengan lingkungan sekitar, diantaranya adalah :
· Mengambil motif-motif desain setempat
· Menggunakan bentuk-bentuk dasar yang sama, tetapi kemudian
memanipulasikannya sehingga nampak berbeda
· Mengabstraksikan bentuk-bentuk aslinya
· Mencari bentuk-bentuk baru yang memilii efek visual yang serupa atau paling tidak
mendekati.
Dengan mengacu kepada teori tersebut, usaha mengolah bentuk dasar serta mengambil pola-pola setempat berupa atap perisai dapat disimpulkan sebagai sebuah usaha arsitektur Toko Cokelat untuk kontekstual dengan Jalan Progo walaupun dengan gaya arsitektur modern yang menjadi kontras dengan bangunan sekitarnya.
Arsitektur Modern Tan Tik Lam
Membahas bangunan ini tidak terlepas juga dari arsiteknya. Tan Tik Lam dikenal dengan proyek-proyek residensial dan kerap memenangkan penghargaan atas karya-karyanya. Ia dikenal dengan karakter bangunan yang kuat sehingga mudah dikenali.
Toko Cokelat ini merupakan salah satu proyek non residensialnya. Namun dengan fungsi yang berbeda, karakter desainnya tetap dapat dirasakan di wujud dan ruang bangunan tersebut. Menurut Tan Tik Lam sendiri, setiap arsitek harus memiliki gaya sendiri dan memiliki benang merah di setiap karyanya. Memang dulu karakter sang ayah, Tan Tjiang Ay, seorang arsitek besar Indonesia, sempat menempel di karakter desain Tan Tik Lam. Namun dengan berjalannya waktu, karakter desainnya dapat muncul sebagai gaya dan karakter arsitektur yang berbeda dengan sang ayah.
Banyak orang yang mengatakan bahwa karya-karyanya menganut gaya arsitektur minimalis, namun Ia lebih suka menggunakan makna modern untuk merepresentasikan karya-karyanya. Seringkali juga ia dicap menganut gaya arsitektur kontemporer, terutama dalam proyek Toko Cokelat ini. Ia sendiri tidak mengira akan menghasilkan gaya itu karena sejak awal desainnya tidak berangkat dari keinginan menciptakan bentuk arsitektur kontemporer namun desainnya berangkat dari konsep pemenuhan fungsi, lokasi, dan biaya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
Namun jika kita melihat dari konteks kontemporer dengan makna kekinian, Toko Cokelat menjadi sebuah karya Arsitektur Kontemporer dengan mengusung spirit baru untuk mewadahi aspek kebutuhan gaya hidup masyarakat urban yang berkembang pesat.
andhang rakhmat trihamdani
mahasiswa arsitektur ITB 2006
Wednesday, September 23, 2009
demen

architectural review: Shadow Metaphor
Karya tugas akhir ini menjadikan wayang sebagai analogi dari bentuk massa bangunannya. Hal itu dapat dilihat dari analogi dari wayang berupa bagian Kepala-Badan-Stik yang diwujudkan dalam rencana tapak berupa bentukan massa yang terdiri dari 3 massa utama yaitu perwujudan dari bentuk Wayang. Kemudian, massa tersebut memiliki fungsi yang menjadi elemen utama dari Bangunan ini yaitu Teater Wayang Orang, BlackBox theater, dan Galeri.
Perancang banyak mengambil analogi dari Wayang. Hal serupa juga didapati pada elemen fasade bangunan.
Saya menduga perancang menganut langgam arsitektur modern-kontemporer karena hasil rancangannya tersebut banyak menggabungkan nilai-nilai lokal yang digabungkan dengan bentuk-bentuk kekinian yang seakan akan ingin merubah pemahaman masyarakat akan bentuk-bentuk arsitektur vernakular yang identik dengan sesuatu yang berbau budaya.
Satu hal yang menarik dari rancangan ini adalah pengalaman ruang yang tercipta akibat gubahan bentuk-bentuk yang sangat menarik dan eksploratif. Saya dapat merasakan dibawa melalui ruang yang sempit lalu terhenti di sebuah Lobby yang besar dengan langit-langit yang tinggi. Dari lobby itu kemudian pengguna memilih untuk melanjutkan perjalanannya akan kemana.
Ruang ruang yang tercipta menjadi menarik karena eksplorasi bentuk yang terjadi. Seperti Arsitektur Dekonstruktif Zaha Hadid atau Libeskind.
Sebagai sebuah pusat wayang, perancang sadar akan kekayaan dari Wayang di Indonesia. Banyak sekali jenis wayang di Indonesia seperti : Wayang Orang, wayang golek, atau wayang orang.
Namun dalam konsep perancangan bangunan ini, perancang seakan-akan menyisihkan wayang-wayang lain yang juga adalah kekayaan budaya Indonesia.
Analogi Bentuk maupun inspirasi elemen fasade diambil dari analogi bentuk wayang kulit dari Jawa menjadikan rancangan ini sangat “Jawa”. Hal ni bertolak belakang dari tujuan awal perancang yang ingin mengenalkan budaya wayang di Indonesia. Hakikatnya sebuah bangunan budaya tidak menjurus kepada salah satu budaya saja sehingga konsep bangunan lebih Objektif dan tidak memihak kepada salah satu budaya.
Eksplorasi bentuk yang dilakukan perancang seakan menciptakan sebuah bangunan asing di Jalan HR Rasuna Said. Bangunan dengan aksis yang tidak teratur di tengah-tengah teraturnya kawasan Rasuna membuat bangunan ini menjadi aksen jika kita lihat dari google earth.
Selain itu, bangunan yang dirancang kurang merespon kondisi Iklim Tropis di Indonesia. Banyak bidang-bidang miring dan penggunaan material kaca serta bentuk atap yang tidak beraturan sehingga rawan bocor, panas, dan saya menduga bangunan ini menjadi sangat mahal dalam biaya perawatan dan operasionalnya.
Namun, terlepas dari aspek-aspek tersebut, keberanian bereksplorasi bentuk serta pengalaman-pengalaman ruang yang tercipta menjadikan karya tugas akhir ini layak menjadi contoh untuk mahasiswa-mahasiwa Arsitektur lainnya.
Tuesday, September 15, 2009
the reason why I use canon
Monday, September 14, 2009
on progresio : AR4000
tugas akhir saya apa ya?
Wednesday, July 2, 2008
liburan yang arsitektural
Sehari ber-Arsitekur
hari Jum’at, 27 Juni 2008.. saya dan teman-teman janjian ketemu di taman menteng karena pengen lihat acaranya anak-anak arsitektur UI yang bertajuk A[rch UI] Fair 2008. Saya sendiri niatnya pengen ngumpul-ngumpul aja coz udah lama ga jalan bareng..kangen-kangenan lah..hehehe dan yang datang ke acara itu ada echa, bagus, Irene, nadia, aufar, shevil, fianty, manyu, abeth, Irwin, uthi, reinard, mitok, imal, bintang, siddik, adith, Melissa, inka, bayu, dan laras. Saya juga ketemu temen semasa SMA, they are leusherina, nirwan, n boris dan juga malmal yang kenalannya di FS..Lumayan banyak kan..
Lokasi acaranya bertempat di taman menteng, Jakarta Pusat, dan diadakan di 2 bangunan di taman tersebut yang bangunannya bermaterial kaca. Panasnya amit-amit walaupun ada AC yang mati-matian mendinginkan ruangan dan panitianya udah mempersiapkan kipas angin yang banyak. Saya ga tau apa yang ada di pikiran si arsitek kenapa dia membuat bangunan dari kaca di tengah panasnya Jakarta. Kita berada di iklim tropis bung!
By the way, ada yang tahu ga arsiteknya ‘rumah kaca’ itu siapa?hehehe
Acaranya sendiri berisi pameran mahasiswa arsitektur UI, lecture, dan presentasi dari beberapa arsitek seperti Baskoro Tedjo, Ridwan Kamil, dan Eko Prawoto.
Mendengarkan presentasi dari Baskoro Tedjo bukanlah merupakan suatu hal yang special karena toh sehari-hari kuliah di Bandung saya sering bertemu dan mendengar cerita tentangnya. Apalagi Moch. Ridwan Kamil, hampir setiap kuliah metodologi beliau menceritakan karya-karyanya. Agak-agak narsis emang arsitek-arsitek itu.
Selesai mendengarkan presentasinya pak Bas, saya, echa, bagus, Irene, dan siddik lanjut ke Jakarta Design Center karena ada acara dari IAI bertajuk “Public Lecture Series” dan di hari itu Budi Pradono dari Budi Pradono architects berkesempatan mempresentasikan karya-karya terbarunya.
Mendengarkan Baskoro Tedjo dan Budi Pradono menceritakan karyanya tentunya menambah pemahaman dan pengalaman, apalagi kedua arsitek itu memiliki pandangan yang berbeda mengenai arsitektur yang dapat menjadi input yang bermanfaat khususnya buat calon-calon arsitek seperti saya ini. J
Akhirnya hari yang menyenangkan itu diakhiri dengan makan malam di kawasan Mayestik dengan diiringi petikan gitar sang penyanyi jalanan membawakan nomor-nomor hits di tahun 70-80an..
What an architectural day!
Selagi menjadi mahasiswa arsitektur, saya akan banyak mendengarkan dan melihat sampai akhirnya saya menemukan ‘arsitektur saya sendiri’
Pangandaran Beach! yaiy!!
Pantai Pangandaran
Yeah! Pantai pangandaran!
Pantai yang berlokasi di sebelah selatan Pulau Jawa ini menawarkan panorama pantai yang menawan…
It’s not a joke… … itu jika anda datang bukan di musim liburan… J
Kalo datangnya di musim liburan, siap-siap saja melihat pantai yang seperti es cendol..hehe
Oke.., Terlepas dari cendol-cendol itu, saya mau cerita tentang liburan saya disana…
First, how to get there?,
sangat mudah sekali untuk sampai Pangandaran bahkan buat anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi. BUDIMAN siap mengantarkan anda ke tujuan (BUDIMAN sebuah merek bis). Tetapi saya tidak tahu pasti berapa tarif kesana. Maaf yah…hehehe
perjalanan ke Pangandaran sendiri akan memakan waktu kurang lebih 6 jam dan menghabiskan bensin sekitar 40liter jika anda mengunakan Honda Jazz (irit lho)
Selama perjalanan kita akan melewati kota Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar. Namun, Sebelum memasuki kota banjar ada tempat bernama Rajapolah, tempat ini menjual kerajinan-kerajinan tangan yang unik dan bagus dengan harga yang tergolong murah. Yang penting anda harus pintar menawar barang-barang yang dijual disana.
Di Rajapolah, saya membeli sebuah kap lampu seharga Rp.50.000 yang terbuat dari ijuk. Bentuknya unik, jadi saya beli buat pajangan di rumah.
Tidak jauh dari Rajapolah , di perbatasan kota Banjar, anda saya sarankan mampir ke RM Intansari, letaknya disebelah kanan jalan dari arah Rajapolah, saya sarankan untuk cobain sop buntutnya… Sop buntutnya Macknyuuussshh TOP MARKOTOP PEmirsa!!
Dan akhirnya….. setelah 3 jam perjalanan dari Banjar…., hamparan pasir dan ombak menyambut anda…..
Kita tiba di Pantai Pangandaran! JENG JENG JENG (ky di sinetron-sinetron)
Eit..eit…Jangan langsung menuju air karena kita harus mencari tempat menginap dulu.
Yap! Dimana kita bis menginap disana? Jangan khawatir…Di pangandaran, berbagai jenis tempat menginap tersedia, mulai dari selembar tikar hingga hotel berbintang.
Tarifnya juga berbeda-beda tetapi tetap logis di kantong. Contohnya, kalau anda menginap di hotel. Tarif menginap di Hotel rata-rata berkisar 150rb-500rb, tergantung dari jenis hotelnya dan jenis kamarnya. Di tempat saya menginap, yaitu Hotel Bintang Laut (sebut merek aja ya) , satu kamar bisa memuat sampai 6 orang dan kamarnya dilengkapi AC, tarif per-malamnya adalah 175.000….murah kan? Apalagi jika patungan sama teman-teman.
Selain hotel, tersedia juga rumah-rumah penduduk yang disewakan dengan harga 75.000-250.000. Rumah-rumah ini sebenarnya adalah tempat tingal mereka tetapi jika ada yang mau menyewa mereka akan pindah ke rumah kerabatnya. Satu rumah disana rata-rata terdiri dari 2-3 kamar dan masing-masing kamar memiliki kamar mandi. Sip kaaan?
Sekarang bagiannya pak Bondan Winarno, .. J
Untuk menjajal masakan daerah pantai , kunjungilah pasar ikan di pangandaran. Ikan besar dengan harga murah bisa langsung dimasak dan dimakan di tempat. Tentunya cita rasa yang anda cicipi akan berbeda dengan saat di kota karena ikan yang dimasak masih segar..Fresh from the Sea…
Makan di pantai tidak lengkap tanpa minum Kelapa Muda, minuman ini bisa didapatkan dengan harga 5000.
Kuliner lain adalah pecel tepi pantai, bubur ayam, dsb. Pokoknya jangan khawatir jika perut anda merayu. Ceileee..
Saran saya, jadilah anak pantai.. ekspresikan diri anda sepantai-pantainya..
Jajal semua yang ada, anda bisa mengendarai ATV dan sepeda tandem disana, surfing di pantai ,menyeberang ke pantai pasir putih, dll. Jangan sampai anda menyesal karena tidak mencobanya.
So, semoga pantai ini dapat menjadi alternatif tempat liburan untuk anda!
Enjoy Holiday!
Liburan-G destination pangandaran, green canyon dan batu karas
Yeaahh!!
…..
Oia…saya belum jelasin ya apa itu IMA-G?
Jadi IMA-G itu adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma… namanya juga ‘Ikatan” jadi ini adalah organisasi yang anggotanya mempunyai sebuah ikatan yaitu sebagai sesama Mahasiswa Arsitetur di ITB
Nah..di IMA-G itu banyak divisi, salah satu divinya adalah divisi keanggotaan, tugasnya secara umum yaitu ngurusin anggota G (ima-g), jadi misalnya klo anak-anak G lagi pada jenuh, keanggotaan membuat acara seperti musik sore, makan-makan, nonton bareng, dll. Intinya membuat anggota ga jenuh
Kebetulan di divisi itu gw jadi wakadiv-nya, kadiv-nya namanya redha…
Sebagai wakadiv yang kerjaannya nganggur-nganggur, redha ngasih gw tugas buat jadi ketua Liburan-G. tapi tetep aja sebagai ketua gw nganggur (baca: males),hehehe jadi yang repot tetep redha dan anggota divisi : they are ngocop, laras, irwin, dara, kirana, Irene, nadia, didit, fiena.
maaf yaaa redhaaaaaaa….gw ga becuss! Hahahaha (buat redha klo mungkin baca) hehehehe and great thanks for them all!!
Back to topic
Jadi dari ribuan rapat keanggotaan, ditetapkan lah tujuan Liburan kali ini adalah PAngandaran, Green Canyon dan Batu KAras
Baca juga ulasan ttg lokasi2 tersebut, tentunya di blog kesayangan anda ini!
What a great holiday!!!
Halo!
Halo-halo!
…, perkenalkan saya Andhang Rakhmat Trihamdani, saat menulis ini berusia 19 tahun dan menjadi mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung.
Lahirnya blog ini bukan sebuah aksi latah karena banyak teman saya yang ‘nge-blog’ lho… tapi sebuah hasil pemikiran mendalam dan kebutuhan untuk menuangkan gagasan dan pikiran saya…ceileee
Rencananya blog ini , saya mau nulis hal2 yang berhubungan dengan arsitektur, tapi ga menutup kemungkinan untuk nulis hal-hal berbau cinta, kemahasiswaan, sosial, atau politik.
Yap!
Semoga blog ini bisa bermanfaat!
Andhang rakhmat trihamdani lahir untuk
Semangat membangun bangsa
Mengharumkan nama bangsa
Dan menjadikan hidup lebih indah
Amin.
